Juli 27, 2017

Recehan waktu

"kamu himpunan?"
"iya Bu"
"jadi apa? terus kamu bagi waktunya gimana?"
"itu dua urusan yang berbeda Bu"
- dalam wawancara dengan Ketua Departemen

Gue ga pernah tau, dua sampai tiga langkah ke depan yang gue ambil itu bener atau engga. Ralat, sesuai atau engga dengan kompetensi dan abilitas gue. Faktanya, semua selesai pada waktunya masing-masing. Time heals everything, unless we don't permit it.

Seminggu ini, gue kayak melakukan banyak hal (padahal mah youtube-an dan blogging doang jir). Akhirnya bisa tau updated-conditions cimit-cimitku di luar kota, bisa ketemu Gening, bisa ke instalasi Abenk Alter, bisa evaluasi sama cimit-cimit lainnya, bisa belajar banyak banget dari tempat PL. Fyi, gue di seksi yang semuanya cowo, bapak-bapak gitu; gue sendiri, kebayang kan creepy nya macem apa kalo di kantor/mobil? Seminggu ini, lot of surprises happened, kayak tiba-tiba di-chat dosen siang bolong yang bikin gue gemeteran balesnya, lalu tiba-tiba beberapa hari kemudian jadi chat-an sama sekretaris wadek, obrolan sama pembimbing lapang tentang jadi A atau B, masuk ke perusahaan multinasional. Mungkin buat sebagian orang remeh, tapi buat gue it such has a meaning like finally.. I know how it is; for being surrounded & can be giving 'something'. A reason about why I am standing here.

Semakin tua, gue nyadar remeh-temeh dunia tuh perlu meski ya gue tau itu bohongan. Anggep aja itu semua jokes hidup. Kayak gue lupa bawa dompet ke kantor; jokes, tiba-tiba isi chat temen di grup bisa sama; jokes, ngambilin biji kopi dari cafe; jokes, nyokap minta temenin ke halal bi halal ibu-ibu komplek; jokes, kuat lari ngelilingin stadion; jokes. Lama-lama gue jadi Sule. Nampar juga 21 tahun hidup, ternyata gue gampang seneng sama hal-hal kecil dan sedih sama hal-hal lebih kecil lagi.

Minggu lalu gue naik ojek online dari suatu tempat (X) ke rumah. Gue baru tau kalo X itu wilayah gaboleh ada ojek online masuk, gue langsung jalan jauh sebelum bapaknya nyampe. Pas di motor, bapaknya cerita kalau beliau langsung disamperin enam ojek pangkalan. Sepanjang jalan gue minta maaf, malu, dan nangis sesampenya rumah. Seminggu ini juga gue mulai belajar masak tiap pulang PL berbekal youtube dan pinterest, bokap sama adik gue jadi jurinya terus yaudah, gue seneng.

Receh banget kan? Hidup emang harus dibawa receh kayaknya, biar ringan tapi tetep berharga. Ada masanya si receh-receh ini hilang karena udah kita pake to pay happiness we are wishing for. Kita bakal tetep cari si receh-receh walaupun kita punya pengganti yang lebih banyak karena kita tau kalau si receh-receh lebih bikin "pas" hidup; ga berlebihan.

Oiya, tadi gue abis nonton beberapa video dokumenter, shit ternyata dia tuh gue follow di tumblr terus jadi nulis ini. Seperti biasa, gue bingung ngasih judul apa; jadi semuanya selalu ga punya judul.


***


di balik senja yang merebut satu dalam kecup
pada hujan ditadah rindu yang menyusup
membawa bahu menghadap peluk tak bertuan
dalam santun dikau tekuk tak beraturan

semburat membawa relung-relung panji
dihisap punggung yang mengadu aji
ada risau tanda dikau telah runyam
melaun gundah terbalut malam

petang jengah mencari sendu
iris berkata asa dua terpadu
rusak,
pada aroma dikau terpana
menyumbat lupa yang amat fana

dipaku pada bising kesunyian
intuisi enyah, lari tak berkesan
ujarnya tengah dikunci taring kisah
dalam ilusi menjelma untai kasih

(a. d. / 2017)

Tidak ada komentar: