Februari 27, 2016

Ewr

If it was easy, to leave and to understand;
without telling how you were,
without asking “are those ok?”,
without pretending about what we had.

Call me a numb,
a dumb,
even the biggest liar
you’ve ever met
and,
you’ve ever dated.

Have I shared those night stories?
Have I told you about others?
Are those late-night-calls keep you awake?
How if all ifs that we made are blooming?
How if all truths we talked are coming back?

It may be,
someday.


                          (a.d. 2016)

Februari 07, 2016

Jika Tidak

“Fu, gue mau nanya sesuatu, tapi gue bingung ngomongnya gimana.”
“Apaan?”
“Duh skip kali ya..”
“Ga. Ga. Penasaran gue, buru kasih tau.”
“Lo saat itu ngerasa ga?”
“Hmm biasa aja.”

Bagaimana jika sebenarnya saya merasa tidak?

“Usahain bilang engga ke orang lain ya. Mau sampe kapan lo ada untuk mereka, dan mereka… Stop mentingin orang lain, tapi ga mentingin diri sendiri gitu.”
“Eh ga gitu. Gue ikhlas kok.”
“Ya tapi gue kasian sama lo. Banyak hal yang seharusnya lo selesaiin, banyak hal yang masih jadi cita-cita lo kan?”

Bagaimana jika sebenarnya saya merasa tidak?

Gue lagi di fase tiap mau nulis lupa lagi apa yang mau ditulis padahal gue sudah merangkai kata-kata di angan. Hiw. Ini bakal jadi post yang panjang banget sepertinya, jadi siap-siap!

Itu adalah percakapan telephone free call dengan temen gue beberapa saat lalu. Gimanapun dia pernah jadi teman terdekat q, makanya keliatan akrab banget kan? Halah. Bukan halal. Hm rispiw. Duh, jauh sebelum dia bilang “belajar buat bilang engga ke orang lain” gue sudah melaksanakannya, kok. Terutama semester ini. Contoh:

“Kamu nilainya gimana? Bagus?”
“Engga, ma.”

Atau

“Fu, lo bisa ga tadi?”
“Engga. Zonk. Sampis.”

Tuh kan. Ada engganya. He. Ga kayak gitu aslinya. Gue inget banget nih suatu sore kelabu gue janjian sama orang di kantin yang sebenernya udah tutup. Dia mau ngobrol, katanya. Yaudah, urang lulumpatan ti lantai tilu ka lantai hiji. Lelah, fyi.

“Fu, gimana nih?”
“Ih kak jujur, aku sendiri masih bingung.”
“Ya ampun. Coba cerita-cerita.”
“Bingung, sumpah deh.”

Lalu gue berpikir dan melewati janji gue memberi jawaban, hingga akhirnya:

“Kak, maaf kayanya engga deh. Aku masih mau stay, masih mau mengusahakan ini dulu. Maaf ya, aku bantu dari belakang ajaa. Sukses lah!”

Kurang lebih ya gitu. It’s a really hard question to answer, at that time. Ada juga yang lain:

“Fu, plis. Kalo bukan lo siapa lagi.”
“Gue ga ngerasa klik kak. Gue ga mau paksa. Gue takut ga ikhlas dan ga amanah nanti, gue mundur aja ya.”

Gue banyak bilang engga kok belakangan ini. Kasih applause atuh. Hm boong. Iya da aku mah tulalit, lama banget kan nyambungnya jadi kalau mau bilang tidak pasti susah atau lama.

Semakin ke sini, gue semakin sadar people won’t stay forever, they have their periods in ours. Thus, they have to say no. They may leave as their heart want to do so. They break promises and have a new life. Yay. The same goes to me. Mungkin, secara sadar atau tidak gue sudah membalikkan fakta, gue sudah pergi, gue sudah melukai kalian. Hidih, gue geleuh baca tulisan gue sendiri:( Tapi engga kok, I never mean it, swear. If it happens, maybe am a crook. A new priority will always come first, whatever will be. Orang yang dulu sangat amat dekat lama kelamaan menjauh karena dia punya orang baru, prioritas baru yang lebih menunjang mimpi-mimpinya; yang lebih ingin mengenali dunianya; dan yang sedang setia dengan pilihannya. Well, it taught me how distance means everything, when love means nothing. It switched not like we used to. Because you gotta love somebody by the distance, the space both of you have been made. Admit it. “Kalau itu rezeki kamu, pasti balik lagi kok.” Seperti yang Mama selalu bilang tiap gue kehilangan sesuatu, mencarinya, dan ga pernah ketemu lagi.



“Lagian itu hati apa nugget, beku amat:(“
- Pesan Sissy untuk q. Hu.