Februari 13, 2013

H+1

Kesatu.
Percakapan super pagi.
Q : Gimana?
A : Ya lu tau lah, kesel.
Q : Semangat ya.
Engga ngerti harus memulai dari mana, dalam kondisi seperti ini bukan hanya ingin dimengerti kan kamu? Coba ngerti dikit, coba dengerin dikit. Cape loh ada disini, maaf mengeluh. Tapi ini kenyataannya. Terlalu sedemikian rupakah untuk terus mencerna hal-hal yang demikian. Bahkan kalau kamu mengerti, beberapa kali saya menghindar. Gamau untuk terlanjur lama, karena terlalu membatin, teman:') Maaf
Kedua.
"Jangan bersuudzon, bukan saya atau dia yang marah. Saya disini bukan untuk meminta alasan dari kamu. Tapi ini mutlak kesalahan kamu. Mutlak." Apa kalimat itu bukan suudzon? Bukannya adil ga selalu sama? Kesel paraaaah kan? Silakan kalau ga mau mendengar, tapi kalau permulaan kalimatnya itu 'jangan bersuudzon' bukannya malah jadi aneh ya?
Ketiga.
"Gila. Afu bisa ijit."
Gimana ga ijit kalau kenyamanan terancam?
Keempat.
Hectic sama renang dan nf. Kondisi badan yang begini makin bikin asdfghjkl. Sungguh. Akhirnya nf karena ada pelajaran mate dan besok ulangan mate. Seperti biasa pengen nendang anak yang minta ditendang perutnya itu. Halah gabisa apa mulutnya sedetik mingkem dan ga menyepelekan hal apapun? Terlanjur kesel dan pulang.


Jujur, hari ini semuanya berjalan ga sesuai ekspektasi. Yang disalahkan dan dipaksa untuk diam serta ga minta apa-apa. Yang menghindar, mengalah dan kembali menjadi noah untuk mencoba mengerti lebih-lebih-lebih-lebih-lebiiiiiih banyak lagi.
emotion



2 komentar:

Agni Febby Wulandari mengatakan...

semangat afuuu mogu-mogu <3

Afuvianti Driantika mengatakan...

makasih banyak nimadeeee{}